Selamat malam kasih :))
Aku sedang kabur dari rumah. Sekarang aku ada di tempat yang tidak banyak orang ketahui. Alasanku pergi adalah karena ada suatu masalah. Siapapun pasti punya masalah, tapi yang senekat aku pergi seorang diri dan itu perempuan sepertinya jarang hehe. Iya aku adalah manusia super nekat dan keras kepala, kalau kau tidak suka itu hakmu akupun tidak masalah. Menurutku tidak salah jika sesekali seseorang ingin sekali dimengerti, apalagi dengan orang tua dan itu ibunya sendiri, hal lumrah bukan? Tapi, kalau yang diperoleh bukan perhatian ataupun pengertian, justru marah dan caci maki?
Aku, Kamu, dan kita sudah dewasa. Menasihati dengan cara memarahi dan mencaci maki, siapapun tidak ada yang suka. Sekalipun kenyataannya diri kita bersalah. Apalagi di depan banyak orang. Aku sangat tidak suka. Alasan apapun tidak aku terima, aku sedih. Jadi adakah yang sudi peduli dengan aku yang keras kepala ini?
Aku akui, dengan pergi tidak lantas menyelesaikan masalah, tapi setidaknya hati dan pikiran bisa tenang kan? Dengan kita sendiri kita bisa introspeksi diri tentang kesalahan kita. Toh ujung-ujungnya siapapun dalam hati kecilnya pasti punya rasa menyesal bukan selepas melakukan kesalahan? Kalau aku iya. Nyesel betulan. sedih bukan main, rasanya kok goblok banget ini diri. Bertambah usia memang masalah yang dihadapi semakin besar. Tapi bukankah porsi sabar juga harus jauh lebih besar? Toh tidak ada kan yang namanya batas kesabaran?
Ego manusia saja yang menentukan batas kesebaran. Aku misalnya. Sedang marah-marahnya mending memilih pergi dibandingkan harus berdebat dengan orang tuaku sendiri, karena aku tidak suka disudutkan, ketika aku memang tidak salah pasti aku akan melawan, untuk menghindari hal itulah aku memilih pergi. Toh kalo orang tua terutama ibu sakit hati, ujung-ujungnya tetap kita yang berdosa kan?
Jujur aku sayang sekali dengan kedua orang tuaku, tapi kadang-kadang diriku yang hina ini sakit hati atas sikap dan tutur katanya. Hehe egois memang, padahal apa-apa yang kita peroleh semuanya ada hubungannya dengan kita. Kita mungkin tida pernah sadar, tapi semesta dan Dia tahu. Jadi terima saja ya atas apa-apa yang mungkin dirasa tidak enak dan tidak baik. Sakit hati memang, tapi Tuhan Maha Tahu.
Semalam di suatu masjid aku duduk termenung, aku melamun dan aku sadar. Kali ini aku yang salah, sekalipun cara ibu menegurku salah tetap aku juga yang salah. Bagaimanapun ibu adalah ibuku. Ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan aku. Heran aku pada diriku, kok aku ngga tahu terima kasih sedikitpun sama ibu. Ibu di rumah pasti khawatir, meski pergiku pamit tapi aku tahu, naluri seorang ibu.
Ah siapapun jangan pernah ada yang seperti aku (dalam hal buruk), kalau dalam hal baik ya silahkan, hehe itupun kalau aku punya kebaikan. Bukannya baik dan buruk di mata manusia tidak selalu begitu di Hadapan Tuhan?
Bapak penjaga masjid menegurku,
"Mbak-mbak masjidnya mau di tutup, kalau mu tidur disini mba" (sambil mengarahkan tempat untuk istirahat)
"Oh enggih pak, maturnuwun"
"Mba dari mana mau kemana to? Kok sendirian", dalam batinku (Ya Allah masa aku harus bohong lagi sih, alhasil bohong lagi lah aku)
"Dari . . . . mau ke . . . "
"Oalah hati-hati mbak, saya tak pamit dulu. Monggo mbak . . ."
"Nggih pak monggo ndereaken"
Dalam kesendirian jujur aku merasa keepian, takut tidak. Tapi rindu, pasti keluarga rumah bertanya-tanya kemana perginya aku. Wong tadi baik-baik saja, ketawa-ketiwi bareng, masa secepat itu pergi tanpa pamit, kan lucu. Aku sudah dewasa, menurutku. Aku sudah kuliah, tidak seharusnya tindakanku dalam mengambil keputusan sesempit dan secepat ini tanpa pertimbangan. Benar juga kata temanku, pada hakikatnya manusia tu ngga boleh ngeluh sama nyesel. Harus menerima apa-apa dalam hidup sekalipun ngga sesuai sama ekspektasi kita. Karena apa-apa yang terjadi adalah bagian dari konsekuensi yang kita lakukan, mau tidak mau harus mau. Kalau tidak mau, ujung-ujungnya ya kecewa.
Aku melanjutkan perjalananku, menikmati sejuknya udara kota yang sepi di pagi hari, burung-burung yang berkicau, angin sepoi yang meliuk-liuk, bapak tukang sampah yang pergi pagi-pagi sekali, ibu-ibu pedagang kaki lima, bapak-bapak penjual macam gorengan dan jajanan pasar, pedagang sayur yang membawa kendaraanya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ah indah sekali. Aku suka.
Aku kembali mengiyakan, bahwa sendiri memang asik. Bertanya dan menjawab pertanyakan kita kepada diri kita sendiri juga menyenangkan. Berdebat dan saling mengungkapkan argumen dalam batinku juga menarik. Tidak sadar sudah lumayan jauh aku mengendarai motor. Aku berjumpa dengan kawanku, dia melambaikan tangan,
"Nor, kamu dari mana, kok sendiri?"
"Hehee iya yu, dari rumah. kamu dari?"
"Nganterin adekku"
"Oalah yaudah sana shalat dulu" (Kebetulan aku lagi duduk di masjid yang ngga aku tau namanya, dan ini sudah masuk waktu shalat)
"Hehe ok"
Tidak lama Yuan berpamitan padaku untuk pulang duluan. Ah dunia sempit sekali, aku mengiyakan. Dimana-mana selalu saja bertemu dengan orang yang ku kenal. Padahal sekarang aku sudah jauh dari rumah. Kalau dunia saja sesempit dan sekecil ini? Bagaimana dengan aku? Ah aku makin sedih. Eh jangan, tersenyum ya. Tadi aku bertemu ibu-ibu yang ramaaaaahhh sekali, bertanya dengan lembut dan halus padaku, mengelus pundakku. Bicaranya tenang sekali dan berakhir dengan kata "Hati-hati ya mbak?'
Iya bu, saya sudah hati-hati sekali. Tapi tadi di klakson sama Bus gede karena saya melamun dan motor melaju di tengah jalan.
Oh untukmu, kamu, anda, kita, dan kalian semua
Apa-apa dalam hidup memang luar biasa indah, kadang menyenangkan dan sesuai harapan. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa seringkali yang kita terima menyakitkan. Apapun itu, mencoba menerima adalah perlu. Yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Tuhan, pun sebalikya. Jadi mecoba menerima hingga ikhlas itu datang sendiri lantas kita bersyukur itu baru namanya hidup. Indah, dengan demikian kita bisa bahagia tanpa alasan apapun. Menjadi baik tanpa alasan, namun tetap berusaha baik.
Selamat pagi :))
Aku juga rindu
Di tengah perjalanan minggat haha, 14 Juni 2019
Nur Aroma Rofiqoh/Nora
Komentar
Posting Komentar