Pagi ini langit nampak begitu cerah, aku dan teman-teman berpamit diri untuk pergi ke sekolah menimba
ilmu dan berharap berkah kepada-Nya sang pemberi barakah. Namun, hatiku heran melihatnya kusut seolah sedang
menghadapi masalah yang tak ditemui kemana hati harus melangkah. Aku terpisah dengan teman-teman, aku
berjalan mendekati dan ku beranikan diri untuk menanyai . . .
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam” Jawabnya dingin, dan sangat datar.
“Apa yang terjadi padamu fi?, tak pernah sebelumnya aku lihat kau separah ini, seolah kamu sedang menghadapi
masalah yang sangat membuatmu terbebani”
“Kamu tahu apa tentang aku Aisyah?, lebih baik kamu pergi ke sekolah, biarkan aku sendiri dan silahkan kamu
pergi”.
Hati kecilku berbisik dengan sangat hati-hati,”Biarkanlah dia sendiri, biarkan dia menikmati gejolak di
dalam hati. Pergi dan belajarlah, sepulang sekolah kau temui dan tanyai dia dengan baik apa yang sebenarnya
terjadi. Tenang dia hanya sedang lelah dan butuh sendiri”
“Baiklah fi kalau memang begitu kemauanmu, aku pergi dulu”
Sepulang sekolah aku sempatkan untuk cepat datang ke rumah fifi sebelum dia pergi dan tak pulang lagi
seperti kemarin ibu nya mencari-cari namun tak kunjung ditemui. Aku berjalan sangat cepat ku tengok kanan kiri,
karena tak biasanya jalan sepi dan cuaca mendadak berubah gelap bak hujan akan turun,tetapi . . .
“Fifi?!, apa yang terjadi padamu fi?, mengapa kamu tergeletak seperti ini?, dan badanmu bau alkohol. Masyaallah
fifi” Aku berteriak minta tolong kesana kemari namun tak ada seorang pun ku jumpai, Fifi tergeletak dan tak
sadarkan diri dan hujan turun dengan derasnya membasahi baju kami.
“Uhuk-uhuk, Aisyah?, sejak kapan aku disini dan kenapa bajuku basah seperti ini?”
“Alhamdulillah kamu udah sadar fi, oh iya kamu tadi mabuk berat dan tergeletak di jalanan ku mintai tolong
namun tak ada jawaban hingga hujan membasahi bajumu ini. Akhirnya aku membawa mu pulang ke rumah. Oh ya
ini minum dulu fi, lalu kamu mandi dan ganti baju pakai punya ku dulu”
“Hah?, bagaimana ungkin aku mabuk dan tergeletak di jalanan, terimakasih Aisyah untung ada kamu. Oke baiklah
aku mandi dulu’
Aku bingung mengapa fifi menjadi seperti sekarang ini, aku ingat dulu dia sangat baik, dia juga sangat
pendiam dan rajin sekali beribadah, apalagi bacaan Al Quran nya merdu sekali.
Ya Allah, Engkau yang maha pemberi hidayah, berikan lah hidayah pada teman ku Fifi. Sungguh Engkau
berfirman bahwasannya setiap masalah pasti ada jalan keluar nya,bahwa setiap ujian pasti memberikan hikmah dan
meninggikan derajat di hadapan-Mu bagi yang mengalami nya.
“Sadaqallahuladzim”
“Aisyah?, bacaan Al Quran mu merdu sekali, aku rindu suasana seperti ini, damai dan begitu sejuk di hati,
Masyaallah Aisyah aku betul-betul berdosa” Tangis nya seketika pecah dan menggetarkan hatiku
“Eh Fi, kamu udah selesai dari tadi?, kamu kenapa menangis?, bukannya kamu dulu pengen banget jadi hafidzah,
coba deh kamu baca, kamu hayati dan pahami betul setiap arti, Insyaallah semua gundahmu dalam hati akan
terjawab dari sini” sambil aku berikan Al Quran ini kepada Fifi. “Audzubillahiminasyaithanirrajim …
sadaqallahuladzim”
Fifi membacakan Al Quran dengan sangat pelan dan fasih, begitu merdu. Namun getar tangisnya seketika
Komentar
Posting Komentar