Aku ingin sendiri, sudah itu saja. aku ingin diam dalam kesendirian dan pergi tanpa pamit. Aku ingin menceritakan semuanya pada Sang Maha Pencipta bahwa aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku sedang dalam kebingungan setiap ku menatap matanya. Ingatanku akan kebaikannya pada Ibunya selalu terngiang-ngiang di kepala. Aku tidak pernah menduga bahwa skenario Tuhan serumit dan seindah ini, sehingga aku tercengang dan sering menggumam,
"Mengapa harus aku dan bukan yang lain?"
Jujur saja aku adalah sama halnya kalian. Manusia yang kadang butuh belas kasihan dan butuh sekali didengarkan. Jujur saja aku adalah sama halnya kalian. Manusia yang butuh hangatnya pelukan dan nuansa kekeluargaan. Bersykurlah jikalau kalian masih mendapatkan itu semua. Kadang-kadang aku heran dengan diriku ini, mengapa aku bisa bertahan sampai sejauh ini. Kedua orang tua yang luar biasa yang dengan caraNya menjadikan aku sedewasa ini. Kedua kakakku yang baik dan lucu sekali yang dengan caraNya sering kali buat aku kecewa lalu belajar hingga menerima dan bersyukur.
Ah jujur aku bingung harus bicara darimana, eh kok bicara. Menulis maksutku, karena memang aku tidak suka cerita pada siapa-siapa. Bagiku mengadu cukup hanya padaNya. Keahlianku dalam memendam memang luar biasa. Hingga tangisku tidak lagi bisa keluar dihadapan banyak mata. Hahaha terima kasih Ibu Iin guru matematika sekaligus guru terfavorit di SMP. Tenang bu, in syaa allah ibu tidak akan kecewa, karena aku tetap ceria seperti pesan ibu kepadaku setiap kali berjumpa,
"tetap cerdas dan ceria ya?"
Bu, aku pegang kalimat sakti ini. Aku selalu berusaha untuk itu bu. Tapi yang jadi masalah hari ini aku galau berat. HAHAHA. Ibu dan Bapakku luar biasa sekali, aku haru belajar dari mereka arti kuat dan sabar. Terutama kuat dan sabar menghadapi kenyataan akan keduanya.
Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih, ketika kedua orang tuaku telah menemukan jalan hidupnya. Aku pikir cerita hidup yang serumit ini hanya ada di sinetron atau di film-film saja, ternyata tidak. Aku mendapatinya, aku juga yang menjadi peran utamanya. Lucu sekali ya? Tetap kuat, jabgan rapuh, kamu tidak pernah sendiri.
Jujur saja aku pengen nangis, kalau saja ini waktunya untuk jatuh, aku ingin jatuh sejatuh-jatuhnya untuk kemudia bangkit, semoga aku mampu.
Tuhan? Ini indah sekali, lagi-lagi aku mampu menasihati orang lain untuk tetap kuat. Lagi-lagi aku mampu menjadi dewasa dihadapan orang lain, tapi dihadapan diriku sendri aku rapuh. Maafkan aku atas kemunafikanku ini.
Kalau saja dengan pergi tanpa pamit mampu menyelesaikan masalah, aku akan pergi Tuhan. Aku benar-benar tidak sedang baik-baik saja. Aku ingin berduaan denganmu saja dalam kesendirian dan kesepian. Aku rindu.
Kalaulah aku tidak pernah berjanji dengan abangku untuk tidak akan menangis kecuali dihadapanMu, pastilah aku sudah menangis sejadi-jadinya. Hal sesederhana ini, aku tidak mampu mendapatkannya. Kalaulah yang aku terima adalah karena salahku, aku mohon maaf. Tapi biarlah aku saja yang merasakannya. Jangan yang lain.
Aku kalut, aku kacau sekali. Teman-temanku baik sekali, tapi sayang aku memang keras kepala dan sok kuat. Jadi jangan pedulikan aku. Biarkan aku sendiri saja sebentar. Dari dulu aku menantikan orang yang mau mengertiku, ternyata aku hanya menghayal. Dalam dunia nyata tidak ada sama sekali. Yang paling tahu dan peduli adalah Dia dan diri kita sendiri.
Orang yang aku kagumi jikalau kau memang menakdirkan untukku, ah itu indah sekali. Tapi kalaupun tidak dan sesuai dengan jalan yang ada, aku mungkin akan sedikit kacau. Bagaimana mungkin tidak, ada kisah seorang anak yang merelakan Tuannya demi Orang tuanya menikah dengan orang tua Tuannya :)), indah sekali bukan? Hatinya resmi terluka.
Andai semua orang bisa meminta jalan hidup yang mulus-mulus saja, mungkin aku akan meminta itu, agar aku tidak merasakan sedih dan sakit. Biarkan saja kalau hidupnya monoton. Heh aku nih ngomong apa, aku inget kata-katamu semalem Di,
"dalam hidup nggak usah banyak ngeluh dan jangan pernah nyesel. Jadikan apapun yang terjadi dalam hidup adalah suatu konsekuensi dari apa yang sudah kita lakukan dan harus kita terima. Tapi karena tidak semua orang mampu menerima keharusan itu tadi timbulah penyesalan dalam diri seseorang. Memang setiap orang beda-beda dalam memaknai segala hal, dan untuk menyikapinya tidak bisa dipukul rata, intinya cuman ada dua pilihan. Kata temenku, kita hanya bisa menghadapinya dengan cara menerima orang lain dan menghadapi orang tersebut dengan cara yang orang tersebut bisa terima atau tetap menjadi diri sendiri walaupaun berbeda dari apa yang orang lain inginkan"
Semoga Tuhan memberimu kesempatan lebih lama lagi :))
Semoga Tuhan memberiku kuat dan kemampuan menghadapi apa saja
Batur, 02 Syawal 1440 H
Nur Aroma Rofiqoh
Komentar
Posting Komentar