Di titik paling nanar sekali pun, meski keadaan rasanya tidak berpihak kepada kita, kita tetap harus berprasangka baik pada-Nya. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang tebaik bagi kita. Hal demikian tentu sulit dan butuh pembiasaan berupa rasa sakit yang berulang.
Tidak bisa dihindarkan bahwa kita semua pernah menyalahkan takdir Tuhan atas ke-tidak-mampu-an kita dalam menerima skenarioNya. Kita sering menolak kesedihan dan mau senangnya saja. Kita juga pernah disibukkan dengan pertanyaan,
"Tuhan mengapa semua ini terjadi padaku?"
Seolah-olah kita lebih tahu. Menyedihkan sekali.
Jangan. Jangan sekali-kali merasa hidup menderita apalagi merasa paling menderita. Itu ego namanya. Penderitaan tidak bisa dibandingkan, karena penderitaan baginya belum tentu menjadi derita bagi kita. Tiap manusia pasti memiliki penderitannya masing-masing. Dengan begitu, kita tahu nikmatnya bahagia.
Bahwa kesedihan dan rasa sakit adalah hal biasa yang pasti terjadi dan akan terus berlalu dan berganti kesedihan yang lain. Satu satunya cara bahagia adalah berteman dengan rasa sakit. Dengan begitu kita akan biasa saja. Dengan terbiasa merasakan sakit, kita akan biasa saja juga dalam merasakan bahagia. Intinya tidak perlu berlebihan.
Dengan berlebihan, kita akan kehilangan.
Komentar
Posting Komentar