Aku tidak pernah berpikir akan
berada pada pilihan ini. Memilih untuk menetap di tempat yang menyiksaku dalam
bentuk kerinduan. Sejujurnya aku juga ingin pulang. Bertemu ibu, bercerita
bersamanya. Tapi, bukan sekarang, belum tepat waktunya. Bagiku kalau pulang
hanya sekadar pulang itu bisa dilakukan kapan saja. Untuk sekarang aku tidak
bisa pulang hanya dengan tangan kosong. Harus ada yang ku bawa untuk kebaikan
ibu ke depannya. Ibu harus membaik, bagaimanapun caranya.
Aku
tidak pernah memikirkan kebahagiaanku sendiri sebelum ibu benar-benar bahagia.
Dia harta satu-satunnya yang aku miliki. Melihat dia tertawa tanpa memikirkan
semua beban, halusinasi, obsesi, dan penderitaannya adalah kepuasan batin.
Sekarang
aku tidak berharap banyak pada siapapun termasuk keluargaku, aku hanya berharap
dan bergantung padaNya saja. Aku tidak pernah berhenti meminta dimampukan dan
dikuatkan. Harapan akan hidupku adalah sesederhana aku bisa menerima dengan
ikhlas atas semua pemberianNya. Bersyukur tiada henti atas apa yang sedang Dia
titipkan. Menggunakan dengan sebaik-baiknya apa yang sedang Dia titipkan juga.
Sejatinya aku tidak punya apa-apa bukan? Kadang-kadang manusia lupa, bahwa
kelak apa saja yang ia miliki sekarang akan dikembalikan dengan
pertanggungjawaban, termasuk kedua orang tua bukan?
Aku
masih berada dalam perasaan bingung, pertanyaan mengapa selalu menghantui. Tapi
berpikir terus menerus saja tidak cukup. Harus ada tindakan. Sejujurnya aku
tidak bisa sendiri, aku butuh kita bekerja sama. Selamat berjuang, hari esok
katanya akan jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan
Yogyakarta, 22 Desember 2019
Aku juga ingin pulang, tapi pulang
saja tidak cukup.
-Aroma.
Komentar
Posting Komentar