Langsung ke konten utama

Iyakan Perempuan?



Kalo tanya kenapa? Aku tidak tahu. Kamu boleh mengira aku begini dan begitu, itu hakmu. Tapi, mengiyakan semua atas perkiraanmu tentang aku, aku tidak setuju. Aku sadar betul pernah sok tahu dan kepedean, seolah-olah merasa kamu punya something feeling ke aku, hanya karena kamu berlaku baik ke aku. Padahal, boleh jadi kamu melakukan kebaikan seperti ini tidak hanya ke aku saja kan? Makannya kenapa sekarang aku sudah terbiasa untuk bersikap biasa saja. Kamu terlalu sulit ku definisikan. Kadang kamu sangat baik, tapi tidak menutup kemungkinan kamu kadang-kadang menjadi seperti anak kecil, bahkan melampauinya.

Kenyataanya, anak kecil mudah sekali memaafkan, marah sebentar, nangis, lalu kembali baikan, dan lupa sama semua masalahnya. Kalau kamu? Justru hanyut hanya karena perihal yang mungkin kita sajalah yang salah paham. Aku tidak suka, kamu terlalu sibuk memperioritaskan aku. Kita hanya teman kan? Tolong bersikaplah selayaknya teman, jangan terlalu berlebihan dalam memberikan perhatian. Nanti aku salah memaknainya, nanti kamu akan kembali mengatakan, “salah siapa baper, udah biasa kan sekarang, orang-orang baik ke semua orang” Tapi tolong, jangan selalu mengataiku dengan kata baper.

Aku selalu bersikap biasa saja, tapi chatmu muncul tiap hari, telfonmu juga sering menghabiskan waktumu mungkin, dan juga waktuku. Lalu, aku harus tetap menganggap kamu adalah teman biasa saja? Ini aku yang salah atau bagaimana sih? Kalau memang tujuanmu mencari perempuan yang baik, buka begini caranya. Perempuan bukan ajang uji coba, kalau yang baperan dengan mudah kamu tinggalkan, yang sulit didapatkan justru dikatai “Tidak peka”, kamu yang pecundang sayang. Kalau suka ya silahkan katakan dengan jantan dan gagah berani. Temui saja kedua orang tuanya kalau perlu. Tapi, kalau memang belum siap akan semua konsekuensi yang ada, maka tolong persiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Bukan malah seperti ini. Toh pada saatnya, jika memang sudah tepat waktunya, yang jadi milikmu akan tetp menjadi milikmu kan? Ah ternyata kita memang sama saja. Bedanya kamu mencari yang sesuai, dan aku menunggu yang sesuai.

Dengan begini aku kebal. Dengan begini aku sudah terbiasa. Banyak yang perhatian dan bilang begini begitu, aku anggap biasa saja. Sampai pada lontaran kalimat, “kamu kok ngga peka banget sih jadi orang” please, ngga peka darimananya? Kalian tidak pernah tahu bagaimana aku di masalalu, tapi kalian dengan mudahnya bilang begitu. Ah aku tidak tahu, aku tidak mau ambil pusing. Yang penting kamu senang, maka aku ikut senang.

Aku juga bingung dengan aku, traumatis itu susah dihilangkan. Jangan melulu mengataiku bucin lah, aku baik ke kamu ya karena memang kamu baik. Aku juga akan berusaha tetap baik ke kamu, sekalipun kamu tiba-tiba hilang tiada kabar dan kalau berpapasan malah seperti tidak kenal. Hahaha lucu sekali ya?

Kamu sendiri yang bilang untuk tetap bersikap biasa aja dalam segala situasi dan kondisi, tapi kamu sendiri yang mengingkarinya. Aku sudah cukup bersikap biasa saja, karea itu memang pesan tulus dari hati kecilku. Tapi, dengan aku bersikap biasa saja kamu malah menduga aku tidak peka dan mengira aku memberikan perhatian yang sama ke semua orang? Hahaha maaf, aku bukan kamu.

Siapapun perempuan, dia memang pandai menyembunyikan rasanya. Dia pandai sekali membolak-balikkan fakta hanya sekadar menutup rasa agar tidak terlalu larut di dalamnya. Dia sadar betul akan kodratnya yang perasa. Dia juga pembohong paling ulung, tetap kuat berkata “Tidak” pada hal yang padahal “Iya”. Dia rela sakit, hanya demi “Agar kita tetap baik-baik saja” kenyataanya, kamu tidak  pernah sadar akan hal seperti ini kan? Ah memang, sendiri dan diam-diam mengagumi, diam-diam mendoakan, itulah satu-satunya jurus paling ampuh. Tuhan maha tahu, jadi aku tidak jadi ragu. Sudah lah, semoga kamu tetap bahagia, tetap baik-baik saja, tetap bisa tertawa dan mengejek kecerobohanku. 

Batur, 12 juli 2019
Nur Aroma Rofiqoh
Kangen kamu yang, yang mana?

Komentar