Kalo
tanya kenapa? Aku tidak tahu. Kamu boleh mengira aku begini dan begitu, itu
hakmu. Tapi, mengiyakan semua atas perkiraanmu tentang aku, aku tidak setuju. Aku
sadar betul pernah sok tahu dan kepedean,
seolah-olah merasa kamu punya something
feeling ke aku, hanya karena kamu berlaku baik ke aku. Padahal, boleh jadi
kamu melakukan kebaikan seperti ini tidak hanya ke aku saja kan? Makannya kenapa
sekarang aku sudah terbiasa untuk bersikap biasa saja. Kamu terlalu sulit ku
definisikan. Kadang kamu sangat baik, tapi tidak menutup kemungkinan kamu
kadang-kadang menjadi seperti anak kecil, bahkan melampauinya.
Kenyataanya, anak kecil mudah sekali memaafkan, marah
sebentar, nangis, lalu kembali baikan, dan lupa sama semua masalahnya. Kalau kamu?
Justru hanyut hanya karena perihal yang mungkin kita sajalah yang salah paham. Aku
tidak suka, kamu terlalu sibuk memperioritaskan aku. Kita hanya teman kan? Tolong
bersikaplah selayaknya teman, jangan terlalu berlebihan dalam memberikan
perhatian. Nanti aku salah memaknainya, nanti kamu akan kembali mengatakan, “salah
siapa baper, udah biasa kan sekarang, orang-orang baik ke semua orang” Tapi
tolong, jangan selalu mengataiku dengan kata baper.
Aku selalu bersikap biasa saja, tapi chatmu muncul tiap
hari, telfonmu juga sering menghabiskan waktumu mungkin, dan juga waktuku. Lalu,
aku harus tetap menganggap kamu adalah teman biasa saja? Ini aku yang salah
atau bagaimana sih? Kalau memang tujuanmu mencari perempuan yang baik, buka
begini caranya. Perempuan bukan ajang uji coba, kalau yang baperan dengan mudah kamu tinggalkan, yang sulit
didapatkan justru dikatai “Tidak peka”, kamu yang pecundang sayang. Kalau suka
ya silahkan katakan dengan jantan dan gagah berani. Temui saja kedua orang
tuanya kalau perlu. Tapi, kalau memang belum siap akan semua konsekuensi yang
ada, maka tolong persiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Bukan malah seperti
ini. Toh pada saatnya, jika memang sudah tepat waktunya, yang jadi milikmu akan
tetp menjadi milikmu kan? Ah ternyata kita memang sama saja. Bedanya kamu
mencari yang sesuai, dan aku menunggu yang sesuai.
Dengan
begini aku kebal. Dengan begini aku sudah terbiasa. Banyak yang perhatian dan
bilang begini begitu, aku anggap biasa saja. Sampai pada lontaran kalimat, “kamu
kok ngga peka banget sih jadi orang” please, ngga peka darimananya? Kalian
tidak pernah tahu bagaimana aku di masalalu, tapi kalian dengan mudahnya bilang
begitu. Ah aku tidak tahu, aku tidak mau ambil pusing. Yang penting kamu
senang, maka aku ikut senang.
Aku juga bingung dengan aku, traumatis itu susah
dihilangkan. Jangan melulu mengataiku bucin lah, aku baik ke kamu ya karena
memang kamu baik. Aku juga akan berusaha tetap baik ke kamu, sekalipun kamu
tiba-tiba hilang tiada kabar dan kalau berpapasan malah seperti tidak kenal. Hahaha
lucu sekali ya?
Kamu sendiri yang bilang untuk tetap bersikap biasa aja
dalam segala situasi dan kondisi, tapi kamu sendiri yang mengingkarinya. Aku sudah
cukup bersikap biasa saja, karea itu memang pesan tulus dari hati kecilku. Tapi,
dengan aku bersikap biasa saja kamu malah menduga aku tidak peka dan mengira
aku memberikan perhatian yang sama ke semua orang? Hahaha maaf, aku bukan kamu.
Siapapun perempuan, dia memang pandai menyembunyikan
rasanya. Dia pandai sekali membolak-balikkan fakta hanya sekadar menutup rasa
agar tidak terlalu larut di dalamnya. Dia sadar betul akan kodratnya yang
perasa. Dia juga pembohong paling ulung, tetap kuat berkata “Tidak” pada hal
yang padahal “Iya”. Dia rela sakit, hanya demi “Agar kita tetap baik-baik saja”
kenyataanya, kamu tidak pernah sadar
akan hal seperti ini kan? Ah memang, sendiri dan diam-diam mengagumi, diam-diam
mendoakan, itulah satu-satunya jurus paling ampuh. Tuhan maha tahu, jadi aku
tidak jadi ragu. Sudah lah, semoga kamu tetap bahagia, tetap baik-baik saja, tetap
bisa tertawa dan mengejek kecerobohanku.
Batur, 12 juli 2019
Nur Aroma Rofiqoh
Kangen kamu yang, yang
mana?
Komentar
Posting Komentar