Hai kamu, iya kamu. Kamu yang mana ya pokoknya kamu hehe. Kamu yang awalnya tidak pernah mengenalku, pun aku tidak pernah mengenalmu, tapi kini kita sudah saling kenal namun belum benar-benar kenal. Disengaja atau tidak, mengenalmu adalah sebagian takdir Tuhan, meski sebentar dan membekas. Sekalipun aku dan kamu kini saling melupakan, tapi jangan khawatir, karena akan ada saksi yang terpatri yakni kenangan.
Mengenalmu adalah bagian dari takdir Tuhan. Disengaja atau tidak, kita punya sebagian cerita yang sama, meski mendefinisikannya dengan cara yang berbeda. Aku dan kamu baru sebatas kenal, belum benar-benar kenal. Aku baru kenal kamu, kalo kamu ini asik. Meskipun, kita adalah dua insan yang penuh dengan perbedaan. Kalau kata orang, justru perbedaan inilah yang akan menyatukan dengan alasan saling melengkapi. Ah nyatanya tidak, dunia ini tidak selalu berpihak pada kita bukan?
Sering kali kita terjebak dengan ekspektasi, hingga berujung pada kekecewaan. Jujur aku kecewa, ketika kamu berubah sedemikian drastisnya, awalnya kita dekat. Tapi sayang hanya sesaat. Ingat tidak?, kita pernah menghabiskan waktu bersama. Berkumpul bersama teman-teman, pergi bersama teman-teman melakukan perjalanan yang cukup jauh. Hingga kita pernah menghabiskan satu hari bersama. Ah sial, rupanya semakin aku berusaha melupakan, justru aku semakin ingat.
Aku sudah benar-benar kecewa, semua usahaku sia-sia. Mulai dari menghapus semua tentangmu, dan berusaha keras melupakanmu. Semuanya sia-sia. Aku tetap mengingatmu. Sekalipun ku hapus semua chattingan denganmu, dalam memori ini semua tentangmu telah tersusun rapi. Meski telah ku hapus semua kontak yang ada di hpku. Ah sial, aku sudah terlanjur hafal. Haha memuakkan.
Dulu kamu bertanya padaku,
Pernah di kecewakan?
Pernah lah, justru dengan sahabatku sendiri
Lalu kamu bagaimana?
Ya mencoba memaafkan
Pernah ditinggalkan?
Ya pernah lah, justru dengan kawan yang aku sayang
Lalu kamu bagaimana?
Awalnya kecewa, lalu ikhlas
Kok gitu?
Ya gitu kan?, disengaja atau tidak, perubahan itu pasti. Tugas kita mengoreksi diri, jika seseorang berubah atau berujung meinggalkan kita, mungkin ada yang salah di diri kita. Sesimpel itu.
Terus kamu muji aku baik. Dalam hati aku ketawa, seberapa kenal kok kamu bilang aku baik. Aku ini manusia tersadis di dunia bagi orang yang menganggapku sadis. Pun aku adalah orang yang sangat baik di dunia bagi orang yang mencintaiku, sampai-sampai semua keburukanku baginya tidak ada. Dia telah buta dimakan oleh cinta. Makan tuh cinta.
Ah kamu, menyebalkan sekali. Tapi unik, makannya aku tertarik. Akhirnya aku sadar, bahwa melupakanmu secara paksa hanya membuat aku tersiksa. Menghapus semua tentangmu juga hanyalah hal yang sia-sia, untuk itu aku mencoba untuk biasa saja.
Iya ini tentang kamu, yang tiba-tiba meninggalkan aku, dan bersikap dingin seolah aku adalah mahluk terkejam di dunia ini. Iya ini tentang kamu, yang . . . . ah malas sekali mau menulis tentangmu, aku sudah berusaha melupaka, tapi aku ingat betul semua kenangan. Memuakkan. Aku benci. Eh tidak biasa saja, aku taku nanti berujung cinta hahaha.
Kenapa ya?, kebanyakan orang semakin mengenal justru semakin tidak ingn kenal. Disaat mulai tahu keburukan seseorang, satu persatu, cepat atau lambat mulai meninggalkan. Contohnya kamu, tahu aku begini, lalu kamu bersikap begitu. Bilangnya ngga mau ninggalin, tapi ya kamu sedniri yang ninggalin. Bialngnya mau bersikap biasa aja tapi kalo ketemu Cuma diem-dieman. Ah dasar anak kecil. Sudahlah biasa saja. Bukankah kita ini kawan?. Kok kamu malah baper sih, kalo emang kawan ada yang salah ya disampaikan, bukan malah meninggalkan begitu saja. Kejam. Jangan jadi laki-laki kebanyakan dong, laki-laki kebanyakan ya, bukan semua laki-laki.
Ini loh yang buat kebanyakan perempuan, termasuk aku takut. Akhirnya memilih diam dalam kesendirian, ya karena memang ini puncak kenyamanan, dan meminimalisir dosa. Karena kebanyakan lelaki memang begitu. Tidak memberikan kepastian. Kalau memang suka nyatakan, tak perlu jaim-jaiman. Konsekuensi cinta kan memang rela berkorban, perasaan. Jangan malah bilang aku ngga peka dong. Kamu cuma memberikan aku perhatian, jadi aku hanya menganggapmu sebatas kamu perhatian, memangnya begitu salah ya?. Pake ngatain perempuan segala sukanya kode-kodean, only kebanyakan peempuan ya, ngga semua, dan bukan aku. Coba kamu bilang pada kedua orang tuaku, haha mampus. Pastilah aku akan memberikan jawaban.
Masih tentang kamu, kamu kenapa?
Kalo aku nanya kenapa, ya jawab. Bukan malah ngga papa. Asli aku bukan Tuhan yang tahu segalanya. Jadi tolong jelaskan. Dengan kamu cerita juga tidak emmbikin kamu lemah. Gengsi banget sih jadi orang. I know, kamu ngga lagi baik-baik aja. Kamu dulu pernah bilang begini . . . . ya udah dong jujur sama hatimu, jangan selalu ikuti apa kata orang. Jangan selalu kamu menganggap aku begini hanya berdasar kata orang. Asli jangan. Ntar kebiasaan. Berkali-kali ku bilang, kenali seseorang itu berdasarkan pada apa yang kamu kenal, bukan pada apa yang kamu dengar.
Semuanya sudah terlanjur, bak nasi menjadi bubur. Kamu sekarang sudah kabur. Kabur dari yang biasanya ngechat aku tiap malem, cerita ini dan itu yang aku sendiri ngga peduli haha. Kabur dari yang biasanya paling gercep ketika aku butuh sesuatu. Kabur dari pandanganku ketika kita tak sengaja saling menatap. Haha lucu sekali. Perkenalan kita memang singkat, tapi sedikitpunaku tidak pernah lupa, sekarang kamu jauh, jadi baik-baik ya. Semoga kamu bisa ke tempat yang kedua orang tuamu melarang padahal kamu pengen.
Sudah, jadi dirimu saja, yang dingin. Sok pendiam, sok marah, sok canggung ketika berjumpa. Jadi satu pertanyaanku setelah sekian lama kita tak saling sapa.
Kamu apa kabar?, udah nonton . . . . belum?, bagus loh hehe
Aku kangen, aku ngga peduli orang ngomong apa.
Biar hatimu yang jawab.
Jangan lupa shalat :))
Komentar
Posting Komentar